Refleksi Politik Turki Terhadap Politik Mesir

Masih dengan tema politik di Mesir yang lagi hangat-hangatnya pasca dekrit Presiden Mursi, berikut adalah salah satu artikel yang ditulis oleh Ihsan Yilmaz (Associate Professor of Political and Social Sciences at Fatih University, Istanbul). Artikel ini berjudul “Turkish readings of Egyptian politics”.

Hal yang menarik dari artikel ini adalah pandangan positif Prof Yilmaz terhadap pilihan politik yang diambil oleh Presiden Mursi ditengah banyaknya pendapat-pendapat yang curiga ataupun memandang sinis langkah politik yang diambil oleh Presiden Mursi hingga bahkan menuduhnya seperti layaknya Fir’aun modern di jaman ini.

Terlepas dari perdebatan yang memang akan selalu ada, artikel ini masih okehlah untuk memperkaya cara pandang kita terhadap politik Mesir hari ini. Selain itu, artikel ini juga menarik karena Prof Yilmaz menyajikannya dengan membandingkan politik Mesir dengan Turki yang memang menjadi keahlian utamanya.

Selamat membaca 🙂

Continue reading

Mursi dan Dekritnya: Metamorfosis Fir’aun atau Cincinnatus?

Sangat menarik bagi kita untuk mengamati peristiwa yang saat ini tengah terjadi di Mesir. Semakin jelas, Mesir telah berhasil menjadi pusat perhatian dunia yang baru. Hal ini dimulai ketika munculnya fenomena Arab Spring di beberapa negara Timur Tengah dimana khusus bagi negara Mesir, sejarah telah mencatat bahwa Muhammad Mursi adalah orang sipil pertama yang memegang jabatan Presiden Mesir melalui pemilu yang demokratis. Pada masa pemerintahan Mursi, kita juga melihat Mesir telah memainkan peran utama sebagai mediator konflik Israel-Palestina baru-baru ini bersama-sama dengan Amerika Serikat. Kemudian, tidak lama setelah kesepakatan gencatan senjata antara Israel-Hamas berhasil dipenuhi, dunia kembali menyoroti Mesir akibat dekrit Mursi yang dikeluarkan pada hari Kamis lalu (22/12).

Banyak diskusi setelah dekrit tersebut dikeluarkan, baik pro-Mursi maupun kontra-Mursi. Bahkan lapangan Tahrir pun kembali ramai dengan para protestan yang tidak setuju dengan dekrit Mursi, meskipun tidak seramai demontrasi besar-besaran mendesak Mubarak lengser keprabon. Terkait dua mainstream diskusi atas keputusan Mursi, apa pun alasan yang disampaikan oleh pro-Mursi, saya percaya bahwa apa yang telah dilakukan Mursi melalui dekritnya bertentangan dengan esensi demokrasi. Hal ini karena Mursi melalui dekritnya telah menempatkan dirinya di atas hukum, sedangkan semangat demokrasi adalah berdasarkan kepada gagasan keseimbangan kekuasaan (balance of power).

Namun, Continue reading